Karya Sastra

Kumpulan Puisi

Puisi dan renungan Sri Radjasa Chandra — suara nurani dari perjalanan panjang di Aceh dan pengabdian pada negeri.

Murka Allah

Ketika langit tak lagi ramah

Dan bumi enggan menumbuhkan berkah

Adakah kita bertanya pada diri

Dosa apa yang telah kita semai?

Murka Allah bukan tanpa sebab

Ia datang dari tangan-tangan yang khianat

Dari mulut yang fasih berdusta

Dari hati yang mengeras bagai batu

Wahai pemimpin yang lupa amanah

Wahai rakyat yang diam dalam salah

Kembalilah sebelum pintu tertutup

Sebelum murka menjadi keputusan

Golput Itu Indah

9 April 2014 pukul 4:32

Asap politik kian menghitam diatas Aceh

Akibat sampah demokrasi yang terus membara

Janji politisi sesumbar demi rakyat dan keadilan

Tapi berpuluh rakyat meregang nyawa demi berhala politik

Kemarin….

Mengatasnamakan kemerdekaan tapi rakyat dipasung…

Kadang mengatasnakan damai tapi hatinya penuh amarah.

Kadang mengatasnakan keadilan tapi dijualnya hukum..

Ramai2 mengatasnamakan demokrasi tapi tabu perbedaan..

Hari ini…

Kemanapun kaki melangkah….

Jauhkan arah dari bilik suara…..

Karena yang kau dengar hanya tipuan belaka..

Tidak memilih bukan jahat….

Tapi itulah kata hati nurani..

Silaturahmi

Wataqullâh alladzî tasâ`alûna bihî wal arhâm…

Allah SWT Maha Tepati Janji..

Sejauh mata memandang syurga luas terbentang..

Tak perlu jadi ulama atau syuhada….

Hanya luangkan waktu untuk berbagi dan silahturahmi..

Subhanallah…..

Sesungguhnya Syurga lebih murah dari secangkir kopi

Sesungguhnya kita mahluk yang dimanjakan…..

Karena Allah tahu bahwa kita sangat lemah….

Mengapa kita berlomba saling membunuh diantara sesama…..

Mengapa kita bahagia melihat orang susah

Bukankan sendiri melawan sepi..

Lebih mencekam dari pada mati…

Laris manis tanjung kimpul…..

Jangan tunda niat silaturahmi……

Jika berharap Syurga jua tempat kita kumpul….

Syurga harga mati 02062011

Maafkan Ayah

Mei dua belas tahun silam

Ketika subuh masih temaram

Kugenggam erat jemari kecil ketika buah hatiku

Semata tuk menahan lara yang menyesakan dada

Tak ada kata perpisahan kecuali sepenggal doa

Hasbunallah wanimal wakil……

Mei dua belas tahun silam

Kulangkahkan kaki menyongsong panggilan tugas…

Nun jauh di "0" kilometer persada ini

Untuk mengawal setiap jengkal tanah milik ibu pertiwi

Walau hati menjunjung tinggi kesetiaan kpd negeri..

Namun rindu pd si buah hati menjadi siksa yg tak bertepi..

Rasa bersalah terus memburu kemana aku pergi…

Membiarkan mereka tumbuh tanpa dedikasi ayah

Sesungguhnya aku hanya korban retorika "NKRI harga mati"

Serenada merah putih 220511

Setia dan Tepati Janji pada Ibu Pertiwi

Negeri ini berdiri

Karena ridho Allah SWT

Karena tekad merdeka seluruh rakyat

Karena sikap rela berkorban seluruh rakyat

Karena tak ingin harkat martabat bangsa tercampak

Negeri ini berdiri

Bukan karena ada aparat penegak hukum

Bukan karena ada pejabat dan penguasa

Bukan karena belas kasihan negara lain

Bukan karena hadiah dari negara besar

Lantas mengapa hari ini

Ketika negeri porak poranda oleh angkara murka

Hanya polisi yang berhak atas segalanya

Dengan dalih undang-undang

Dan takut di cap tak junjung tinggi HAM

Hari ini mari kita serukan

Persetan dengan jargon demokrasi dan HAM

Ganyang politik pencitraan dan gusur kepentingan asing

Setia dan tepati janji pada Ibu Pertiwi

Adalah harga mati

Antologi: Puisi Perlawanan

Sampul buku Puisi Perlawanan karya Sri Radjasa Chandra

Puisi-puisi di atas terhimpun dalam antologi “Puisi Perlawanan” karya Sri Radjasa Chandra.

Penerbit: BANDAR Publishing, Banda Aceh · ISBN 978-602-1632-61-1

Seluruh karya di halaman ini merupakan ekspresi pribadi dan tanggung jawab penulis. Dipublikasikan sebagai bagian dari dokumentasi pemikiran dan karya sastra Sri Radjasa Chandra.